Tugas Sosum ke 1

MK. Sosiologi Umum (KPM 130) Hari/tanggal :

Praktikum ke 2 Ruang : RK 16 FAC 401 B

Analisis Artikel Realitas Sosial

Nama/NRP : Yulia Astuti/I34100057

Nama Asisten : Rika Yulia/I34080038

Judul Artikel/Bacaan : Ribuan Warga Ngamuk, Mapolres Hancur.

Analisis :

Artikel tersebut memuat tentang aksi warga yang memorak-porandakan Markas Polsek Kampar, yang diakibatkan oleh kemarahan warga terhadap tindakan beberapa anggota polisi Polsek Kampar yang menangkap dan melakukan terhadap salah satu warganya. Pada kenyataannya, warga yang dipukuli tersebut dinyatakan tidak bersalah atau dapat dikatakan bahwa beberapa anggota polisi tersebut salah tangkap. Massa memasuki area kantor sembari melempar kaca serta lampu. Selain itu, dua unit sepeda motor yang tengah diparkir serta sebuah unit televisi yang berada di ruang pengaduan juga menjadi amukan masa.

Menurut saya, peristiwa tersebut merupakan realitas sosial karena peristiwa tersebut benar – benar terjadi di masyarakat, memiliki pemicu terjadinya suatu peristiwa, dan kejadian tersebut mempengaruhi keadaan masyarakat di sekitarnya.

Dalam hal ini, polisi sebagai aparat pemerintah dan masyarakat yang menjadi aktor utamanya. Ironisnya, masyarakat yang seharusnya diayomi oleh aparat pemerintah menjadi anarkis akibat perlakuan dari aparat itu sendiri. Pada dasarnya, polisi berperan sebagai pelindung masyarakat dan dapat bertindak bijak dalam menentukan siapa saja yang bersalah dalam sebuah kejadian. Namun inilah faktanya, manusia seringkali merasa menjadi seseorang yang hebat dan terkadang khilaf akibat status sosialnya sebagai seorang polisi yang seharusnya dapat menjadi kebanggaan masyarakat, sehingga seringkali terjadi aksi“salah tangkap“ seperti ini hanya karena kesalahan data kecil. Sehingga akibatnya, masyarakat yang memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi akibat oleh interaksi sosial yang terjadi di daerahnya menjadi marah dan anarkis. Terlebih lagi, salah satu warga mereka dihakimi tanpa kesalahan.

Pada dasarnya, penyebab terjadinya hal ini adalah tidak adanya kesadaran sosial. Hal tersebut tidak hanya harus ditanamkan dalam diri setiap manusia, namun juga di setiap institusi atau lembaga negara seperti ini. Saya rasa tidak pantas apabila sebuah lembaga kepolisian yang bermartabat terlecehkan hanya karena aksi salah tangkap dan langsung dihakimi seperti halnya artikel tersebut. Apabila anggota tersebut merupakan anggota kepolisian yang professional dalam menjalankan tugasnya, maka tidak akan terjadi hal seperti diatas. Selain itu, berbagai unsur muspida seperti RT, camat, ataupun lembaga keamanan lainnya yang terdapat di daerah tersebut juga tidak dapat bertindak tanggap dalam aksi tersebut. Warga yang dapat dikatakan orang awam tidak akan dapat mengerti tentang berbagai perundingan antara kedua belah pihak yang seharusnya terjadi dan masyarakat bisa mendapatkan ganti rugi dari penghakiman salah satu warga mereka tersebut.

Hingga kini, birokrasi pemerintahan yang efektif dan tindak lanjut dalam penyelesaian sebuah masalah menjadi salah satu solusi dalam masalah ini. Sudah sepatutnya pemerintah bertindak tegas dalam memberikan teguran kepada anggota keamanannya yang bertindak sewenang – wenang. Sehingga birokrasi pemerintahan dapat berjalan sebagaimana mestinya dan seefektif mungkin. Selain itu, interaksi sosial antara kepala pemerintahan atau unsur muspida setempat juga perlu diperkuat agar para kepala pemerintahan di sekitarnya dapat turun tangan menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin tanpa harus ada kekerasan lagi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment